Jumat, 16 Maret 2018

HAL-HAL BERIKUT INI BISA MENJAUHKAN ANDA DARI PERSELINGKUHAN

By Cahyadi Takariawan

Pada saat seorang suami jatuh cinta kepada perempuan lain, atau seorang istri jatuh cinta kepada laki-laki lain, suasana jiwa mereka mengalami perubahan yang luar biasa.

Sedemikian hebat pengaruh cinta dalam diri manusia; rasionalitas bisa hancur berantakan, dikalahkan oleh dahsyatnya perasaan jatuh cinta.

Pada saat seperti itu, situasi sudah sangat sulit dan runyam. Keluarga diambang kehancuran karena hadirnya pihak ketiga yang tidak diharapkan.

Jangan menunggu situasi itu terjadi pada diri dan pasangan anda. Miliki ketrampilan untuk mengendalikan perasaan sehingga bisa tetap menjaga jarak dengan pihak ketiga.

Agar bisa mengendalikan perasaan terhadap orang ketiga, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, yang sekaligus menjadi cara untuk menjauhi perselingkuhan.

1⃣Pertama, selalu ingat kepada Allah

Jika kita selalu ingat kepada Allah, maka ada banyak pengaruh dalam diri kita. Satu sisi kita akan terjauhkan dari perbuatan dosa, pada saat yang sama hati kita menjadi tenang.

Jika jiwa kita tenang (sakinah), kita tidak akan mencari-cari hiburan atau kegiatan atau keisengan yang menyimpang.

2⃣Kedua, selalu ingat keluarga.

Ingatlah bahwa anda sudah menikah, sudah memiliki rumah tangga sendiri, bahkan sudah memiliki anak. Anda diikat oleh akad nikah yang sakral dengan pasangan, maka jangan mencederai akad itu dengan tindakan yang bisa merusaknya.

Banyak orang memasang foto keluarga di tempat kerja, di dompet dan di gadget agar selalu ingat keluarga. Dengan mengingat keluarga, itu bagian dari penjagaan kebaikan diri anda.

3⃣Ketiga, jaga etika pergaulan.

Salah satu hal yang membuat orang mudah melakukan perselingkuhan adalah pergaulan yang melampaui batas-batas etika.

Sebagai orang yang sudah menikah, tentu harus semakin pandai menjaga diri dalam interaksi. Saking mudahnya komunikasi dan interaksi —baik secara langsung maupun melalui teknologi— kadang membuat orang lupa diri.

Interaksi dan komunikasi yang rutin dan intens paling bertanggung jawab atas munculnya benih-benih cinta di antara dua anak manusia.

4⃣Keempat, taati ajaran agama.

Dalam setiap agama, selalu mengajarkan kebaikan. Perselingkuhan bukan merupakan ajaran agama apapun.

Dalam ajaran Islam yang membolehkan poligami, tetap saja ada etika dalam melakukan. Tidak didahului dengan perselingkuhan atau bebasnya pergaulan. Tapi dilakukan dengan proses yang sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Karena menikah itu ibadah, tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang melanggar aturan agama.

5⃣Kelima, pilih teman bergaul yang baik

Salah satu yang berpengaruh sangat kuat dalam membentuk perilaku manusia adalah teman pergaulan. Jika bergaul dengan orang-orang salih, orang-orang baik, akan cenderung memberi pengaruh perilaku yang baik pula. Demikian pula sebaliknya.

Jika banyak bergaul dengan para ahli selingkuh, akan banyak mendapat inspirasi dan motivasi tentang perselingkuhan.

6⃣Keenam, segera menjauh saat merasa ada gejala keistimewaan perasaan

Ketika sudah mulai merasa ada sesuatu perasaan yang berbeda dalam interaksi dengan seseorang, segera putuskan hubungan.

Segera jauhi interaksi dengan orang itu, karena jika dituruti, akan semakin membuat perasaan mendekat dan sulit dipisahkan. Kesalahan yang biasa terjadi, munculnya perasaan istimewa seperti ini justru dinikmati, dan bahkan terlambat disadari.

7⃣Ketujuh, kuatkan selalu bonding dengan pasangan

Ada sangat banyak jenis ikatan antara suami dan istri; salah satunya adalah ikatan emosi. Kedekatan emosional antara suami dan istri tidak boleh pudar apalagi menghilang.

Perselingkuhan terjadi karena ada pelemahan ikatan emosional antara suami dan istri, kemudian menemukan orang ketiga yang bisa memberikan kedekatan emosional kepada dirinya. Maka kuatkan selalu kedekatan emosional dengan pasangan.

Berhati-hatilah mengelola dan mengendalikan perasaan cinta dalam jiwa kita. Jangan sampai jiwa menjadi lemah tak berdaya karena dimabuk cinta kepada orang yang tidak halal bagi kita.

Jaga hati, jaga diri, turuti tuntunan Ilahi.